Senin, 30 Mei 2011

Jenis-Jenis Karya Ilmiah

Jenis-Jenis Karya Ilmiah

Quantcast
Menulis itu penting. Menulis bahkan erat kaitannya dengan peradaban. Sejumlah orang besar seperti Carlyle, Kant, Mirabeau, dan Renan sangat percaya dan meyakini, penemuan tulisan benar-benar telah membentuk awal peradaban. Dalam dunia antropologi, misalnya, dikenal pemeo: sebagaimana bahasa membedakan manusia dari binatang, begitu pula tulisan membedakan manusia beradab dari manusia biadab (as language distinguishes man from animal, so writing distinguishes civilized man from barbarian).  Dengan kata lain, tulisan hanya terdapat dalam peradaban, dan peradaban tidaklah ada tanpa tulisan.
Jadi, apabila kita ingin dijuluki orang beradab dan sekaligus menolak untuk disebut sebagai manusia biadab, maka mulailah untuk membiasakan menulis. Jadikanlah menulis sebagai kebuluhan pokok sebagaimana halnya makan-minum setiap hari. Menulis adalah tradisi kalangan terpelajar, pemikir, sekaligus para pemimpin besar dunia pada zamannya sejak ratusan tahun silam. Tradisi itu sampai sekarang berkembang dengan pesat (terutama di Amerika dan Eropa. Di sana, orang-orang besar selalu menulis buku. Masa jabatan boleh singkat, tapi gagasan dan pemikiran serta nama mereka sendiri, tetap dikenang bahkan sesudah mereka tiada berkat karya buku-bukunya yang monumental. Sebagian inaiilan pejabat di Indonesia, mulai mengikuti tradisi kalangan terpelajar dan orang-orang besar itu.
Bagi mereka, dan juga bagi kita, menulis itu penting, paling tidak untuk memenuhi tiga hal. Pertama, sebagai wahana diskusi dan sosialisasi gagasan. Kedua, memberi kontribusi pemikiran dalam kerangka mencari solusi terhadap suatu masalah. Ketiga, sebagai sarana proses aktualisasi dan eksistensi diri. Dengan menulis, kita akan diketahui dan dinilai masyarakat, apakah termasuk orang penting dan karena itu layak dikenang, atau sebaliknya orang tidak penting dan karena itu harus dilupakan.
Menulis adalah kegiatan produktif dan ekspresif kaum intelektual di mana pun. Dalam kehidupan modern dewasa ini, tak seorang pun dari kita bisa mengelak dari tulisan. Setiap hari kita dibombardir dengan  jutaan informasi yang dikemas melalui tulisan media massa. Kita memilih sesuka hati kita, menerima dan bahkan menikmatinya. Lewat tulisan, pengetahuan kita bertambah, wawasan kita makin luas, daya analisis kita makin lajam, sikap kita makin bijak, rasa kemanusiaan kita makin peka, dan keputusan serta tindakan kita pun makin menuju kearah yang benar.
Yang dimaksud karangan ilmiah ialah karangan yang mengungkapkan buah pikiran hasil pengamatan, penelitian, atau peninjauan terhadap sesuatu yang disusun menurut metode dan sistematika tertentu, dan yang isi serta kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan.
1. Ciri-ciri Karangan Ilmiah:
  • logis, maksudnya semua keterangan yang diketengahkan mempunyai alasan yang dapat diterima akal;
  • sistematis, yaitu semua yang dipaparkan disusun dalam urutan yang berkesinambungan;
  • objektif atau faktual, artinya keterangan yang dikemukakan didasar-kan pada apa yang benar-benar ada atau sesuai dengan fakta;
  • teruji, artinya keterangan yang diberikan dapat diuji kebenarannya, dan; (5) bahasanya bersifat lugas atau denotatif.
2. Syarat-Syarat Karangan Ilmiah:
  • mengandung masalah serta pemecahannya ;
  • masalah harus merangsang atau menarik perhatian pembaca;
  • lengkap dan tuntas, artinya membeberkan semua segi yang berkaitan dengan masalahnya; dan
  • disusun menurut sistem tertentu dan metode tertentu sehingga mudah dimengerti dan dipahami.
3. Yang Tergolong Karangan Ilmiah:
  • Laporan ialah bentuk karangan yang berisi rekaman kegiatan tentang suatu yang sedang dikerjakan, digarap, diteliti, atau diamati, dan mengandung saran-saran untuk dilaksanakan. Laporan ini disampaikan dengan cara seobjektif mungkin.
  • Makalah ditulis oleh siswa atau mahasiswa sehubungan dengan tugas dalam bidang studi tertentu. Makalah dapat berupa hasil pembahasan buku atau hasil suatu pengamatan. (3) Kertas kerja adalah karangan yang berisi prasaran, usulan, atau pendapat yang berkaitan dengan pembahasan suatu pokok persoalan, untuk dibacakan dalam rapat kerja, seminar, simposium, dan sebagainya.
  • Skripsi, karya tulis yang diajukan untuk mencapai gelar sarjana atau sarjana muda. Skripsi ditulis berdasarkan studi pustaka atau penelitian bacaan, penyelidikan, observasi, atau penelitian lapangan sebagai prasyarat akademis yang harus ditempuh, dipertahankan dan dipertanggungjawabkan oleh penyusun dalam sidang ujian.
  • Tesis mempunyai tingkat pembahasan lebih dalam daripada skripsi. Pernyataan-pernyataan dan teori dalam tesis didukung oleh argumen-argumen yang lebih kuat, jika dibandingkan dengan skripsi. Tesis ditulis dengan bimbingan seorang dosen senior yang bertangungjawab dalam bidang studi tertentu.
  • Disertasi ialah karangan yang diajukan untuk mencapai gelar doktor, yaitu gelar tertinggi yang diberikan oleh suatu univesitas. Penulisan desertasi ini di bawah bimbingan promotor atau dosen yang berpangkat profesor, dan isinya pembahasan masalah yang lebih kompleks dan lebih mendalam daripada persoalan dalam tesis.
  • Resensi ialah karya tulis yang berisi hasil penimbangan, pengulasan, atau penilaian sebuah buku. Resensi yang disebut juga timbangan buku atau book review sering disampaikan kepada sidang pembaca melalui surat kabar atau majalah. Tujuan resensi ialah memberi pertimbangan den penilaian secara objektif, sehingga masyrakat mengetahui apakah buku yang diulas tersebut patut dibaca ataukah tidak.
  • Kritik dari bahasa Yunani kritikos yang berarti `hakim’. Kritik sebagai bentuk karangan berisi penilaian baik-buruknya suatu karya secara objektif. Kritik tidak hanya mencari kesalahan atau cacat suatu karya, tetapi juga menampilkan kelebihan atau keunggulan karya itu seperti adanya.
  • Esai adalah semacam kritik yang lebih bersifat subjektif. Maksudnya apa yang dikemukakan dalam esai lebih merupakan pendapat pribadi penulisnya.
A. Penulisan Artikel Ilmiah Populer
Artikel adalah tulisan lepas berisi opini seseorang yang mengupas tuntas suatu masalah tertentu yang sifatnya aktual dan atau kontroversial dengan tujuan untuk memberitahu (informatif), memengaruhi dan meyakinkan (persuasif argumentatif), atau menghibur khalayak pembaca (rekreatif). Disebut lepas, karena siapa pun boleh menulis artikel dengan topik bebas sesuai dengan minat dan keahliannya masing-masing. Selain itu juga artikel yang ditulis tersebut tidak terikat dengan berita atau laporan tertentu. Ditulisnya pun boleh kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja. Secara teknis jurnalistik, artikel adalah salah satu bentuk opini yang terdapat dalam surat kabar atau majalah. Disebut salah satu, karena masih ada bentuk opini yang lain. Analoginya sederhana. Kalau kita membuka halaman demi halaman surat kabar atau majalah, maka secara umum isinya dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar: berita (news), opini [views), dan iklan (advertising). Kelompok berita: meliputi antara lain berita langsung (straight news), berita foto (photo news), berita suasana-berwarna (colour news), berita menyeluruh (comprehensive news), berita mendalam (depth news), berita penafsiran (interpretative news), dan berita penyelidikan (investigative news).
Kelompok opini: meliputi tajuk rencana atau editorial, karikatur, pojok, artikel, kolom, dan surat pembaca. Untuk memisahkan secara tegas antara berita (news) dan opini (views), maka tajuk rencana, karikatur, pojok, artikel, dan surat pembaca ditempatkan dalam satu halaman khusus. Inilah yang disebut halaman opini (opinion page). Pemisahan secara tegas berita dan opini tersebut merupakan konse-kuensi dari norma dan etika luhur jurnalistik yang tidak menghendaki berita sebagai fakta objektif, diwarnai atau dibaurkan dengan opini sebagai pandangan yang sifatnya subjektif.
B. Penulisan Artikel Jurnal Penelitian
Suatu artikel bisa diterbitkan pada satu jurnal ilmiah adalah terletak pada struktur/formatnya. Artikel yang tidak terstruktur dengan baik menggambarkan keserampangan penelitian. Salah satu syarat penelitian yang baik adalah seksama dan sistematis. Format standar perlu diperhatikan sebelum memasukkan artikel untuk dipublikasikan.
Judul: (a) Judul artikel harus dimulai dengan kata yang sangat membawa arti (key words) terhadap pokok pikiran penelitian, (b) Judul harus menggambarkan kepada pembaca apa isi artikel serta tidak boleh terlalu pendek atau terlalu panjang, (c) Pembaca yang akan memilih artikel, terlebih dahulu mereka membaca judul, (d) Judul merupakan kesempatan pertama atau terakhir peneliti menyampaikan tentang isi artikel dan oleh karena itu judul harus bisa meyakinkan pembaca untuk membaca lebih lanjut isi artikel.
Abstrak: (a) Abstrak tidak kalah pentingnya dengan judul, (b) Pembaca terlebih dahulu membaca abstrak dibandingkan bagianbagian lain artikel, (c) Pembaca akan kesulitan apabila abstrak tidak informatif, (d) Abstrak harus mampu bercerita sendiri dan mudah dipahami.
Secara umum abstrak harus: Ditulis pada bagian awal setelah judul, memberikan kontribusi yang sangat informatif terhadap pembaca, mencakup alasan dilakukan penelitian, tujuan, metode yang digunakan, hasil dan pembahasan, dan tidak lebih dari 250 kata untuk ukuran kertas normal (A4).
Secara detail abstrak: Seharusnya berisi judul dan pendahuluan pada kalimat pertama, mencakup temuan-temuan signifikan, harus menginterpretasi temuan, menyingkatkan dan memadatkan setiap katakata bila memungkinkan, tidak boleh merujuk pada grafik atau tabel, ditulis secara sempurna dan mudah dimengerti, dan tidak boleh mencantumkan kepustakaan.
Penulis harus mampu meyakinkan pembaca dengan kalimat pendek, harus terjawab: apa dan mengapa yang dikerjakan, apa yang diharapkan dari penelitian ini, sebagai tempat mereview literatur, tidak semua literatur harus dicantumkan, tetapi yang sangat berkenaan dan tahun-tahun terakhir (jurnal), alasan mengapa literatur tersebut dipakai dan bagaimana hubungannya dengan penelitiannya, dan akhir dari satu pendahuluan harus berisi satu atau dua kalimat yang secara jelas menggambarkan tentang apa artikel selanjutnya dan bila memungkinkan apa yang akan diharapkan pembaca pada hasil dan pembahasan nantinya.
Bahan dan Metode: Bagian yang paling mudah di antara bagianbagian lain sehingga kebanyakan bagian ini yang pertama ditulis, referensi bagi pembaca bila akan dilakukan penelitian ulang, harus dapat dilakukan ulang oleh peneliti lain, maka bagian ini harus dijelaskan secara detil, pertanyaan mendasar yaitu bagaimana penelitian tersebut dikerjakan?, uraikanlah bahan dan metode ini secara sistematis, pergunakan label angka atau gambar/diagram alir bila mungkin, bahan bahan dan alat (merk dagang) yang digunakan harus dicantumkan asalnya (bukan pasang iklan), metode umum, seperti metode analisis dapat dicantumkan dengan hanya mengutipkan referensi yang digunakan, metode tersebut baru atau modifikasi, maka perlu dijelaskan prosedur kerja secara detil, dan analisis hasil dan bagaimana hasil penelitian dievaluasi harus dijelaskan secara detil dengan mengutip referensi.
Hasil: Hasil penelitian sebaiknya disajikan dalam bentuk tabel dan grafik, serta menarik dan mudah dipahami oleh pembaca, deskripsi hasil harus sesingkat mungkin dan jelas, hanya data yang punya relevan terhadap penelitian yang dilaporkan, dalam pembuatan tabel dan grafik, harus diperhatikan ukuran kertas format akhir artikel yang akan diterbitkan, dan umumnya setiap penerbit mempunyai kriteria dan kondisi pembuatan tabel dan grafik.
Pembahasan: Pembahasan adalah bagian yang terpenting dalam satu artikel, mengorganisir secara hati-hati ke dalam sub bagian yang spesifik, pada setiap sub bagian, penulis harus secara kritis menilai setiap data, bagaimana data tersebut sesuai atau tidak sesuai dengan artikelartikel yang terbit sebelumnya, dan penulis harus bisa menginterpretasi data tersebut untuk pembaca, dapat disimpulkan bahwa ada penilaian rendah terhadap suatu artikel bila interpretasi tidak didukung oleh data yang dilaporkan, dan pembaca tidak diwajibkan percaya apa yang dikatakan, tetapi mereka akan percaya bila disajikan dengan hasil spesifik dan pembuktian untuk setiap langkah.
Kesimpulan: Bukanlah ringkasan, namun memuat hasil sesuai dengan tujuan penelitian, penulis harus dapat menjelaskan kepentingan akan temuannya, bukan merupakan pengulangan yang telah dibahas pada bagian pembahasan, harus menceritakan pada pembaca mengapa temuan ini penting, dan bagaimana temuan ini berkontribusikan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta penelitian apa yang harus dilakukan kemudian.
Daftar Pustaka: Semua penulis yang dimuat dalam artikel harus dicantumkan dalam daftar pustaka, teknik penulisan daftar pustaka sangatlah beragam, harus mengacu style yang telah diterbitkan terdahulu, perlu diingat bahwa dewan redaksi dan editor selalu bersikeras agar penulisan kepustakaan harus sesuai dengan style yang telah diterbitkannya, umumnya setiap penerbit jurnal selalu mencantumkan petunjuk bagi penulis setiap jurnal, secara umum ada tida cara penulisan daftar pustaka, yaitu: Sistem abjad penulis, Sistem penomoran, dan sistem tahun. Sistem penulisan yang umum dipakaiadalah sistem pertama, yaitu sistem abjad penulis (the name-year system) dan sistem ketiga jarang digunakan, sedangkan sistem kedua masih sering dipakai. Penulisan daftar pustaka bagi artikel yang bersumber dari jurnal, judul artikel seluruhnya ditulis memakai huruf kecil, kecuali huruf pertama dan huruf-huruf lain yang sesuai ejaan yang disempurnakan. Sedangkan penulisan daftar pustaka selain sumber jurnal, semua huruf pertama dalam judul artikel ditulis memakai huruf besar, kecuali untuk kata sambung, sandang, dan lain-lain.
C. Penulisan Paper
Paper disebut juga kertas-kerja, yang dimaksudkan untuk publikasi jurnal berkala atau lisan, ia cenderung untuk tidak begitu memperhatikan garis-garis kecil kalau dibandingkan dengan laporan, dan lain dari itu tidak pernah direproduksi dalam jumlah sebányak seperti tulisan yang dipublikasi dalam “jurnal primer” atau proses suatu konferensi.
Seperti halnya tulisan dalam jurnal ilmiah, paper anda disarankan memiliki struktur sebagi berikut:
Pendahuluan: (a) Uraikan tentang topik yang anda pilih dengan menentukan ’konteks’ yang memperkenalkan kepada pembaca pokok masalah dan lingkup isi pembicaraan sehingga fokus pokok masalah atau lingkup isi yang akan membantu pembaca mengorientasikan diri pada arah pembicaraan cukup tergambarkan; (b) Kemukakan secara ringkas tesis paper yang akan dipertahankan; (c) Uraikan secara ringkas argumen yang akan mendukung tesis, yaitu dengan menyebutkan posisi yang disajikan atau pendapat yang akan dipertahankan dalam paper; (d) Sebutkan rencana (organisasi) tulisan.
Isi/Tubuh Tulisan: Jika anda telah menentukan pokok masalah dan menyatakan gagasan pokok atau tesis dalam pendahuluan, anda kemudian harus mengarahkan paper anda mencapai tujuan dengan memberikan informasi untuk mendukung gagasan pokok atau membuktikan tesis. Dengan kata lain, anda diminta menunjukkan buktibukti. Biasanya anda akan mengkombinasikan informasi yang bersifat mendukung dari dua atau lebih bahan bacaan sehingga pembaca dapat mengikuti argumen yang anda jelaskan. Informasi yang anda pilih sebagai dukungan atau bukti hendaknya memenuhi tiga kriteria: (a) Informasi hendaknya relevan dengan pokok masalah (points) yang anda buat. Anda harus mengabaikan banyak informasi dari bahan rujukan yang tidak berhubungan langsung dengan tujuan paper anda; (b) Informasi yang anda pilih hendaknya meyakinkan (convincing) dimata pembaca. Cara terbaik untuk meyakinkan pembaca bahwa tesis anda benar adalah dengan menggunakan bahan bukti penelitian yang menunjukkan validitas tesis anda. Cara yang lain adalah dengan mengutip pendapat ahli dalam bidangnya; (c) Bukti-bukti atau dukungan yang anda berikan hendaknya spesifik. Hasil penelitian yang anda pilih sebagai bahan bukti dan terutama contoh-contoh yang anda pergunakan untuk mengilustrasikan pokok masalah harus berbicara langsung dengan pokok masalah yang anda buat.
Kesimpulan: Karena tujuan dari kesimpulan yang baik adalah membantu pembaca memiliki perasaan nyaman bahwa paper sudah sempurna, artinya tidak ada kemungkinan bahwa pembaca akan melupakan pendapat yang diberikan, terkadang kesimpulan yang dibuat mahasiswa tidak menambahkan sesuatu terutama jika hanya berisi rangkuman pengulangan dari apa yang telah dikatakan. Memang, ada berbagai bentuk kesimpulan sesuai dengan banyaknya jumlah penulis, tetapi sejumlah metode dapat diberikan: (a) Nyatakan kembali atau buat rangkuman tesis yang anda buat. (b) Jelaskan implikasiimplikasi lebih jauh, misalnya, kemungkinan aplikasi teori, prediksi untuk masa depan, kesementaraan atau keterbatasan dari kesimpulan atau gagasan pokok anda, rujukan pada penelitian yang sedang berlangsung berkenaan dengan sesuatu topik
Bagaimanapun, yang harus anda lakukan dalam kesimpulan adalah bahwa anda dengan pasti menyimpulkannya, jangan sekali-kali menyatakan implikasi sedemikian rupa sehingga justru bertentangan dengan tesis anda atau justru membuka munculnya wilayah baru dari pokok masalahnya sebab ini akan membingungkan pembaca. Dengan kata lain, kesimpulan harus tidak membawa masalah baru, kritik baru atau komentar yang berbeda yang seharusnya dibahas dalam tubuh tulisan. Jadi kesimpulan sebaiknya memang menyatakan kembali pencapaian utama dari paper.
D. Penulisan Laporan Penelitian
Seorang yang ditugaskan untuk meneliti suatu daerah atau suatu pokok persoalan tertentu, harus menyampaikan suatu laporan mengenai hal yang ditugaskan kepadanya itu. la sebenarnya mengetahui banyak hal selama menjalankan tugasnya itu. Sebab itu ia bisa menceriterakan semuanya dalam suatu karangan yang panjang lebar. Teiapi semua itu tidak perlu diceriterakannya. Dalam laporan yang ditulisnya ia hanya menyampaikan hai-hai yang esensil. ha’ hal yang pokok yang bertalian dengan tugasnya. sehingga orana yang menerima laporan itu segera mengetahui masalahnya. dan dapat segera mengambil langkah-lang-kah yang diperiukan. Penulis laporan harus menyadari dan berusaha agar apa yang disampaikan itu merupakan hal-hal yang penting. bukan mengenai pengaiaman-pengalaman pribadi atau hal-hal yang kurang penting bila dibandingkan dengan masalah yang dihadapi.
Apa yang dikemukakan di atas hanya merupakan suatu ilustrasi mengenai pengertian laporan. Sebenarnya laporan itu sendiri merupakan suatu jenis dokumen yang sangat bervariasi bentuknya, dan sebab itu sukar diberi suatu batasan pengertian yang jelas. Variasinya mulai dari suatu bentuk iaporan yang sederhana berbentuk angka-angka sebagai suatu gambaran mengenai perkembangan suatu persoalan, sampai kepada laporan yang terdiri dari beberapa Jilid buku yang masingmasing terdiri dari ratusan halaman. Ada yang berbentuk isian formu-lirformulir yang standar, ada yang berbentuk surat, ada’pula yang berbentuk buku.
Laporan merupakan unsur yang sangat penting, terutama dalam menyusun kebijaksanaan-kebijaksanaan. Seringkali karena luasnya organisasi, pimpinan tidak dapat menguasai keadaan secara terperinci mengenai semua hal-ihwal yang terjadi pada tingkat bawah dari organisasi yang dipimpinnya. Tetapi dengan bantuan laporan pimpinan atas dapat mengetahui secara terus-menerus apa yang terjadi setiap hari pada unit-unit yang paling bawah. Dengan mempertimbangkan bahanbahan yang disampaikan melalui laporan-laporan, akhirnya sebagai pimpinan ia dapat mengambil kebijaksanaan-kebijaksanaan yang tepat dan cepat.
Sebelum seseorang dibiasakan menulis laporan dalam hubungan dengan tugas pekerjaannya, ia sudah harus mengenai dan menulis laporan-laporan itu di sekolah. Baik laporan yang akan dibuat untuk perusahaan maupun laporan yang dibuat untuk kepentingan pendidikan mengandung banyak segi yang sama. Namun ada satu segi perbedaan yang amat penting antara kedua macam laporan tersebut, yaitu: laporan untuk suatu dunia usaha tergantung pada satu pertanyaan, “bagai-mana supaya laporan itu cocok dengan kebutuhan mereka yang menerima laporan itu?” Sebaliknya laporan untuk kepentingan kelas tidak selalu dibayangi dengan pertanyaan di atas. Pengajar yang akan menerima dan memeriksa laporan itu sama sekali tidak membutuhkan laporan tersebut. Namun dalam bab ini kedua macam laporan itu akan dibicarakan untuk melayani kepentingannya masing-masing.
Sebagai pegangan mengenai pengertian laporan, kita dapat mengatakan bahwa laporan adalah suatu cara komunikasi di mana penulis menyampaikan informasi kepada seseorang atau suatu badan karena tanggungjawab yang dibebankan kepadanya. Kàrena laporan yang di-maksud sering mengambil bentuk tertulis, maka dapat pula dikatakan bahwa laporan merupakan suatu macam dokumen yang menyampaikan informasi mengenai sebuah masalah yang telah atau tengah diselidiki, dalam bentuk fakta-fakta yang diarahkan kepada pemikiran dan tindakan yang akan diambil.
Laporan yang baik memungkinkan penerima laporan dapat memahami isi laporan itu. Meskipun demikian penyusun laporan tidak bermaksud untuk memberikan penafsiran-penafslran sehingga kesan penerima laporan itu tejah diarahkan lebih dulu. Kualitas atau sifat utama dari laporan ialah obyektivitas. Tujuan laporan yang istimewa adalah meletakkan fakta-fakta yang tepat, dan tidak lain dari pada faktafakta yang tepat, tanpa berhubungan dengan perasaan atau pandangan pribadi tentang fakta-fakta itu. Kenyataan ini perlu mendapat prioritas, karena laporan itu pada hakekatnya adalah dokumen tertulis yang diciptakan sebagai hasil dari prosedur yang diusahakan untuk menjelaskan informasi. Laporan haruslah sebuah pernyataan dari apa yang dinamakan informasi itu. Laporan lebih memperhatikan hal-hal detail, dan lain dari itu direproduksi dalam jumlah sebanyak seperti tulisan yang dipublikasi dalam “jurnal primer” atau proses suatu konferensi. Yang biasa dimaksud dengan publikasi primer adalah jurnal dan publikasi-publikasi berseri lainnya yang merupakan kumpulan kertas-kerja dengan subyek yang sama atau disajikan pada konferensi atau pertemuan yang sama.
Perkataan laporan sebenarnya berasal dari awalan Latin, re, yang artinya “kembali”, dan dari kata Latin lainnya, portare, yang dapat diartikan sebagai “membawa”. Sebuah laporan, karena itu, adalah sesuatu yang dibawa kembali. Seseorang yang dikirimkan untuk membuat penyelidikan dan datang kembali sambil membawa jawaban. Sekarang kata ini mengandung arti bahwa apa yang kembali itu adalah informasi kenyataan. Di dalam percakapan sehari-hari sering kita temukan kalimat: “Cobalah bawa kembali laporan itu!” Ini berarti bahwa pelapor harus membawa kembali informasi tentang kenyataankenyataan yang sesungguhnya. Jika kita mengatakan bahwa sebuah laporan itu dibuat sebagai hasil dari prosedur, kita artikan bahwa sebelum suatu laporan itu dibikin, kegiatan-kegiatan tertentu harus dilaksanakan. Definisi itu juga menyebutkan bahwa sebuah laporan adalah sebuah dokumen tertulis. Perkataan dokumen dipergunakan di sini dalam pengertian asli tentang “sesuatu yang memberikan bukti bukti”.
Kerapkali kita mendapat kesukaran untuk menarik garis perbedaan antara laporan dan skripsi. Pemisahan antara skripsi dan laporan adalah lebih sukar lagi karena suatu kenyataan bahwa skripsi sering disusun berdasarkan laporan penyelidikan. Tetapi pasti bahwa perbedaan laporan dengan skripsi tidak didasarkan kepada pahjang-pendeknya laporan dan skripsi itu. Dalam garis besarnya dapat kita tetapkan bahwa apapun maksudnya, laporan itu adalah tetap dan semestinya historis. Sebuah laporan adalah sebuah pertelaan formil tentang fakta-fakta atau tentang catatan atau hasil dari sesuatu. Maksud laporan yang utama adalah untuk memperoleh dasar untuk berpikir dan bertindak. Banyak sumber yang dapat kita peroleh. Dari majalah-majalah, koran-koran, perusahaan-perusahaan, lembaga-lembaga riset atau lembaga-lembaga lainnya yang merupakan informasi yang amat berguna untuk penafsiran dan analisa. Tetapi laporan bukanlah penafsiran atau analisa. Laporan adalah rangkaian kenyataan yang disusun dengan sistematis. Tentu saja tidak setiap orang dapat membuat laporan yang baik. Laporan tidak mengemukakan penafsiran.
Seperti halnya dengan tulisan-tulisan atau karangan pada umumnya, laporan harus disampaikan dalam bentuk dan struktur yang baik. Bentuk lebih banyak dipertalikan dengan cara pengetikan dan penyusunan, sedangkan struktur lebih dipertalikan dengan organisasinya:
Pendahuluan dan Isi laporan dapat mendahului Kesimpulan dan Saran. Bentuk yang kedua dibuat dengan pertimbangan bahwa yang paling penting bagj penerima laporan adalah Kesimpulan dan Saran. Pendahuluan dan Isi Laporan hanya mempunyai fungsi umum yaitu sebagai bahan ilustrasi atau bahan penjelasan.
Halaman judul biasanya pertama-tama memuat pokok atau topik laporan, kedua, orang atau badan yang akan menerima laporan, ketiga, orang atau badan yang membuat laporan, dan keempat, penanggalan laporan. Halaman judul hanya merupakan suátu label, sebuah etiket pengenal. Sebab itu jangan mempergunakan judul yang terlalu panjang. yang hanya akan mengaburkan pokok persoalan yang akan dilaporkan. Sebuah laporan yang bersifat rutin atau berkala, tidak memerlukan halaman judul. Penjelasan mengenai laporan bulanan, tigabulanan, tahunan, dan sebagainya, sudah menunjukkan bahwa laporan tersebut merupakan laporan rutin atau laporan berkala.
Surat penyerahan (letter of transmittal) berfungsi sebagai Kata Pengantar pada sebuah buku. Sifatnya dan panjangnya berbeda-beda sesuai dengan tujuan dan sifat topiknya. Suatu laporan yang bersifat rutin, mungkin cukup bila Surat Penyerahannya dirumuskan dalam satu atau dua kalimat. Di pihak lain Surat Penyerahan bisa menggantikan kedudukan Kesimpulan atau ikhtisar dari sebuah laporan. Surat penyerahan biasanya mengandung fakta yang minimal diperlukan untuk membangkitkan perhatian pembaca terhadap laporan itu. Misalnya mengadakan identifikasi terhadap suatu proyek, atau mene-kankan pokok-pokok tertentu dari laporan itu. Dalam surat penyerahan dapat pula dicantumkan luas-lingkup dan batas-batas masalah yang dilaporkan, di mana dan bagaimana memperoleh informasinya, dan bagaimana pula laporan itu ditulis. Dan akhirnya surat penyerahan juga memuat nama dan tanda tangan dari penulis laporan. Karena surat penyerahan ini merupakan suatu bentuk komunikasi yang sangat bersifat pribadi dari penulis kepada penerima laporan, maka penulis dapat mempergunakannya juga untuk menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada badan-badan atau perorangan yang telah memberi bantuan, dan akhirnya dipakai pula untuk menyatakan harapannya tentang bermanfaatnya laporan itu pada masa-masa mendatang.
Pada prinsipnya daftar isi laporan sama dengan daftar isi buku. Daftar isi memuat rekapitulasi dari semua judul yang ada dalam laporan itu. Dengan demikian para pembaca atau penerima laporan dapat segera mengetahui apa isi laporan itu. Pokok-pokok yang paling penting kedudukannya ditempatkan semakin ke kiri, sebaliknya semakin berkurang kepentingannya ditempatkan semakin ke kanan. Penggunaan angka-angka atau huruf-huruf sebagai penanda tingkatan judul sesuai dengan teksnya, akan lebih memudahkan pernbaca mengenal struktur laporan itu.
Pengertian ikhtisar (summary) dan abstrak (abstract) seringkali menimbulkan masalah tersendiri, karena tidak ada kesepakatan umum mengenai pengertian kedua istilah itu. Bila dianggap penggunaan istilah itu dapat menimbulkan kesulitan pemahaman, maka hal itu dapat diatasi dengan memberi batasan istilah-istilah itu terlebih dahulu sebelum dipergunakan. Namun demikian perlu pula diberi pegangan tentang pengertian istilah-istilah tersebut yang secara luas diterima dewasa ini.
Abstrak adalah suatu bagian uraian yang sangat singkat, jarang lebih panjang dari enam atau delapan baris, bertujuan untuk menerangkan kepada pembaca-pembaca aspek-aspek mana yang tercakup dalam sebuah uraian tanpa berusaha mengatakan apa yang dibicarakan mengenai aspek-aspek itu. Sebuah abstrak dengan pengertian ini dapat dibuat untuk sebuah laporan atau untuk semua jenis tulisan yang lain. Jika ditulis sebagai suatu bagian dari laporan, maka bagian inilah yang mula-mula dihadapi pembaca, agar segera ia mengetahui aspek-aspek mana yang ditulis dalam laporan itu, tanpa mempersoalkan bagaimana pandangan pe-nulis laporan mengenai aspek-aspek tersebut. Sesuai dengan sifatnya itu, abstrak merupakan bagian yang berdiri sendiri. Abstrak-abstrak semacam ini seringkali muncul dalam penerbitan-penerbitan khusus, untuk menyampaikan informasi mengenai suatu masalah kepada para pembaca.
Di samping istilah abstrak masih dijumpai istilah-istilah berikut: abstrak dan abstrak informatif. Abstrak deskriptif dipakai dengan pengertian yang sama seperti dikemukakan di atas. Sebaliknya abstrak informatif dipakai dengan pengertian yang sama seperti ikhtisar seperti yang akan diterangkan di bawah.
Pengertian ikhtisar, sekurang-kurangnya ikhtisar dalam hubungan dengan laporan, merupakan suatu bagian dari tuiisan yang menyampaikan suatu informasi yang penting dari sebuah laporan dalam bentuk yang sangat singkat. Walaupun bentuk ikhtisar itu singkat, narhun tidak sesingkat abstrak. Bila abstrak hanya menyampaikan aspek-aspek mana saja yang dikemukakan dalam laporan, maka ikhtisar memasuk-kan pula informasi mengenai aspek-aspek itu. Bila perbedaan antara abstrak dan ikhtisar ditinjau dari unsur-unsur pembentuk terria (lihat bab mengenai Ringkasan dan Tema) maka abstrak hanya mengandung topik persoalan, sedangkan ikhtisar mengandung topik persoalan dan tujuan yang akan dicapai melalui topik tadi.
Seperti halnya dengan abstrak, ikhtisar sebuah laporan ditempatkan pada awal laporan dan dapat pula berdiri sendiri: la merupakan bagian yang s’angat penting sesudah kesimpulan dan rekomerfdasi. Itulah sebabnya semua penerima laporan atau pembaca sebuah laporan, sesudah sekali membaca laporan itu, cukup membaca ikhtisarnya kalau ingin menyegarkan kembali ingatannya mengenai laporan itu. Atau untuk memahami seluruh laporan dengan’lebih cermat, seorang pembaca menganggap lebih dahulu harus membaca ikhtisarnya. Untuk mengetahui peminat yang riil mengenai laporan, yang lengkap, biasanya mula-mula ikhtisar laporan itu disebarluaskan. Mereka yang menginginkan laporan yang lengtap dapat memintànya langsung dari badan yang berhak atas laporan itu.
Kesingkatan yang merupakan ciri dari sebuah ikhtisar dibuat dengan meninggalkan pendahuluan, perincian, contoh ilustratif, dan Iain-lain, kecuali gagasan-gagasan utama. Hubungan antara ikhtisar dan laporan lengkap sama dengan hubungan antara sebuah kalimat topik dan sebuah alinea.
Karena laporan, merupakan sebuah dokumen yang akan disimpan dan berguna pada masa-masa mendatang, maka semua hal-ihwal atau latar belakang yang mempunyai sangkut-paut dengan isi laporan harus dikemukakan pula secara jelâs. Sebagai bahan untuk menyusun Pendahuluan sebuah laporan atau unsur yang dianggap sebagai latar belakang dari masalah yang akan di-laporkan dapat dikemukakan beberapa hal berikut: tujuan laporan; mengapa sebuah laporan itu ditulis; siapa yang menyuruh atau memerintahkan untuk membuat laporan itu; siapa saja yang ditugaskan untuk menyelidiki masalah dan melaporkannya, perseorangan atau satuan tugas, siapa yang memimpin satuan tugas; wilayah-wilayah (mana saja yang tercakup; kapan tugas itu mulai dilaksanakan dán kapan berakhir, dan di mana serta bagaimana penulis laporan mendapatkan informasi mengenai masalah tersebut.
Atau cara lain adalah judul Pendahuluan itu dibagi-bagi atas beberapa judul bawahan yang masing-masing dijelaskan lebih lanjut dalam satu atau dua alinea. Judul bawahan tersebut misalnya: Maksud dan Tujuan, Luas Lingkup, Sumber Informasi, Autorisasi, kapan tugas dilaksanakan, Bila ada Surat Penyerahan maka penjelasan mengenai satuan tugas dan waktu pelaksanaan dapat dimasukkan dalam bagian itu. Misalnya ada suatu daerah dilanda wabah kolera. Berdasarkan laporan yang masuk, resmi atau tidak resmi, sebuah satuan tugas Departemen Kesehatan diberangkatkan untuk meneliti dan melihat dari de-kat kebenaran laporan itu. Dalam penyusunan laporan, maka hal-hal yang dapat dimasukkan dalam Pendahuluan adalah: berita mengenai wabah tersebut, perintah untuk melaksanakan penelitian, tujuan melaksanakan penelitian sesuai dengan Surat Perintah yang telah dikeluarkan, siapa yang memberi perintah, siapa saja yang ditugaskan, kapan tugas itu dijalankan dan kapan berakhir.
Isi Laporan menyangkut inti persoalan, dan segala sesuatu yang bertalian langsung dengan persoalan tersebut. Sebab itu isi laporan dapat meliputi: hasil pengamatan mengenai fakta-fakta yang dilaporkan, pencocokan fakta dengan data yang telah ada sebelum satuan tugas melaksanakan kewajibannya, semua masalah yang diperkirakan akan membantu atau menghambat pemecahan masalahnya, pembahasan dan hasil pembahasan mengenai pokok persoalan yang akan dilaporkan.
Bila kita mengambil kasus wabah koiera sebagai telah dikemukakan di atas, maka isi laporan akan meliputi: iuas wilayah yang diserang wabah kolera, situasi daerah yang ada kaitannya yang sangat erat dengan keputusan atau kebijaksanaan yang akan diambil, jumlah penduduk beserta penyebarannya; pusat-pusat kesehatan yang terdapat dalam wilayah tersebut, jumlah tenaga medis dan para medis, persediaan obat, fasilitas pengangkutan; bilamana wabah itu mulai, di mana dan bergerak ke mana, jumlah penderita, jumlah korban yang telah meninggal; tindakan mana yang telah diambil dan bagaimana hasil yang telah diperoleh; bagaimana partisipasi dari pemerintah setempat beserta sikap masyarakat tentang wabah itu secara khusus atau terhadap kesehatan secara keseiuruhan, dan bagaimana sikap mereka terhadap higiene dan sanitasi lingkungan pada umumnya.
Agar isi laporan dapat mencapai sasaran dan tidak ada hal-hal yang dilupakan, sebaiknya penulis laporan membuat suatu rencana (kerangka) yang jelas dan logis serta terarah. Fakta-fakta yang diajukan hendaknya dapat dipercaya, obyektif, jelas, lengkap dan selalu diarahkan kepada tujuan yang akan dicapai. Suatu laporan yang bersifat ilmiah dapat pula mengacu kepada sejumlah karya atau tulisan ilmiah lainnya.
Seringkali pemberi tugas atau penerima laporan tidak dapat membaca seluruh laporan karena harus mengambil tindakan segera, atau karena kesibukan-kesibukan yang dihadapinya. Oleh sebab itu yang penting baginya adalah Kesimpulan dan Saran-saran yang diajukan oleh pembuat laporan, beserta abstrak atau ikhtisar yang disampaikan oleh pembuat laporan tersebut. Berdasarkan abstrak atau ikhtisar beserta kesimpulan dan saran-saran itu penerima laporan harus segera mengambil tindakan-tindakan yang tepat.
Kadang-kadang ada hal yang tidak dapat dirumuskan dalam kesimpulan, tetapi dapat muncul dalam saran-saran. Pembuat laporan bu-kan hanya sekedar mengetahui fakta-fakta, tetapi menghayati serta merasakan pula masalahnya. Sehingga saran-saran itu sangat diperlukan oleh orang yang akan mengambil keputusan mengenai masalah tersebut. Kesimpulan diturunkan dari fakta-fakta, dan lebih banyak mempersoalkan hubuhgan-hubungan logis, sebaliknya saran-saran merupakan langkah atau alternatif-alternatif mana yang dapat diambil supaya masalah itu dapat diatasi sebaik-baiknya. Dengan demikian saran-saran banyak atau sedikit dipengaruhi oleh sentuhan-sentuhan emosional.
Bentuk kesimpulan tergantung pula dari isi laporan serta urutan penyajiannya. Dengan memperhatikan wabah kolera sebagai dasar, ma-ka kesimpulan laporan itu akan berkisar pada masalah: apakah wabah itu akan bergerak terus atau tidak; perlu tidaknya menambah fasilitas darurat berupa klinik darurat, unit mobil, bagaimana peranan pemerintah daerah dan masyarakat setempat, dan apa lagi yang diharapkan dari mereka; perlu tidaknya mengikut-sertakan sebuah satuan tugas penerangan. Apa yang harus dilakukan masyarakat di kemudian hari untuk mencegah terulangnya wabah tersebut.
Pada umumnya sesudah menyampaikan kesimpulan dan saran, laporan itu secara definitif juga selesai. Tetapi seringkali ada beberapa bagian tambahan yang dianggap perlu ada untuk melengkapi laporan itu. Bagian yang perlu dimasukkan untuk melengkapi laporan itu adalah Apendiks (lampiran-lampiran, termasuk di sini Surat Perintah atau Surat Tugas bagi orang yang membuat laporan itu, foto-foto, peta) dan bibliografi bila laporan itu dikaitkan dengan analisa ilmiah yang mempergunakan bahan-bahan pustaka.
Bahasa yang dipergunakan dalam sebuah laporan formal haruslah bahasa yang baik, jelas dan teratur. Yang dimaksud dengan bahasa yang baik tidak perlu berarti bahwa laporan itu harus mempergunakan gaya bahasa yang penuh hiasan. Tetapi sekurang-kurangnya dari segi sintaksis bahasanya teratur, jelas memperlihatkan hubungan yang baik antara satu kata dengan kata yang lain, antara satu kalimat dengan kalimat yang lain.
Bidang yang dilaporkan dan orang yang menerima laporan itu seringkali mempengaruhi pula gaya bahasa yang digunakan. Seseorang yang membuat laporan tentang keadaan teknis sebuah pabrik kimia, atau sebuah pembangkit tenaga listrik akan lain gaya bahasanya, bila dibandingkan dengan bahasa yang dipakai oleh seorang wartawan yang membuat laporan mengenai kunjungannya ke suatu daerah. Lain lagi gaya bahasa yang dipakai seorang sastrawan dalam kisah perjalanannya. Kecuali bahasa sastrawan dalam kisah perjalanannya yang bernilai sastra, pada umumnya gaya yang dípakai harus bersifat obyektif, impersonal, dan tidak boleh memihak. Pemakaian kata yang tepat untuk gagasan yang akan disampaikan merupakan unsur yang penting dalam gaya. Laporan harus dapat dipahami dengan mudah.
Penggunaan kata ganti orang pertama dan kedua harus dihindari, kecuali penggunaan kata “kami” bila yang menyampaikan laporan adalah suatu badan atau satuan tugas. Alasan untuk menghindari penggunaan kata-kata tersebut pertama, karena akan jarang digunakan dalam laporan itu. Konsentrasi diletakkan pada topik yang dilaporkan. Alasan kedua. nilai kedua kata itu juga tergantung dari siapa yang menulis dan siapa yang harus menerima laporan.
Mahasiswa, pelajar, karyawan atau siapa saja dapat melakukan apa saja yang telah diuraikan di atas. Observasi yang diadakan. baik secara perseorangan maupun secara berkelompok, akan bermanfaat bila disudahi dengan sebuah laporan. Semua hal yang dapat diamati atau dilihat selama melakukan sebuah observasi hams dicatat dengan certnat, sebab mungkin akan berguna sebagai kunci untuk memecahkan masalah- masalah yang dihadapi. Hal ini sama saja dengan mempelaiari sebuah buku. Bila laporan-laporan umum memperoleh bahan Saporannya dan observasi, penelitian dan sebagainya, maka laporan buku memperoleh bahannya dari sebuah buku yang telah dibaca.
Singkatnya, apa saja yang menjadi pokok sebuah laporan, entah bidang pendidikan, perdagangan, industri, dipiomasi, teknik, ilmu pengetahuan, semuanya harus disusun secara logis dan jelas. Pada bagian terakhir selalu disertai penilaian tentang baik-buruknya, serta saransaran untuk mengambil tindakan bila perlu. Baik laporan umum maupun laporan buku sebenarnya mempunyai titik singgung dengan ringkasan. Keduanya merupakan penyajian suatu pengetahuan yang lebih luas mengenai suatu hal, tetapi dibuat secara lebih singkat untuk maksud tertentu. Keduanya mempunyai perbedaan dengan ringkasan, yaitu ringkasan tidak mengandung pendahuluan dan kesimpulan
E. Penulisan Skripsi
Penulisan skripsi berbeda dengan penulisan laporan. Jika laporan tidak mengemukakan penafsiran, maka skripsi bertolak dari keinginan untuk mengemukakan penafsiran dan analisa kenyataan-kenyataan. Skripsi tidak membiarkan kenyataan-kenyataan itu sebagaimana adanya. la bergerak lebih jauh. Dengan demikian maka skripsi harus mengemukakan kenyataan-kenyataan itu dengan dasar logika. Artinya ia harus memandangnya dari konstruksi sebab-akibat. Tidak sekedar mengetahui kenyataan tetapi memahami kenyataan tersebut dalam hubungan sebab-akibat. Agar supaya penafsiran dan analisa dalam skripsi itu tepat, diperlukan laporan tentang peristiwa dan kenyataan yang sah yang tidak mungkin diragukan lagi. Tetapi skripsi tidak memuaskan diri dengan kenyataan dan peristiwa belaka, bagaimanapun sahnya kenyataan dan peristiwa itu.
Sebuah skripsi, sama seperti sebuah tesis, harus dapat mengemukakan persoalan. Tetapi berbeda dengan sebuah tesis, sebuah skripsi tidak bermaksud untuk memecahkan persoalan yang dikemukakannya. Pemecahan masalah itu tidak diperlukan di dalam skripsi, karena skripsi tidak akan sampai. kepada perumusan kesimpulan atau tesis. Cukuplah jika ia dapat mengemukakan kenyataan peristiwa yang diolah dari laporan yang sah dengan sistimatis dan dengan maksud untuk mengemukakan masalah-masalah yang akan dianalisa dengan dasar-dasar logika. Mengemukakan dan mengidentifikasi suatu masalah bukanlah sesuatu pekerjaan yang mudah. Kesalahan dalam merumuskan masalah, berarti turunnya nilai skripsi, dan tentu saja nilai ànalisa skripsi itu. Untuk mengemukakan kenyataan peristiwa, masalah-masalah, dan analisa diperlukan suatu sistimatika formil dan disiplin teoritis. Nilai masalah dan nilai analisa sebuah skripsi sama pentingnya dengan nilai masalah dan nilai analisa dalam tesis.
Rancangan penelitian untuk skripsi, tesis, dan disertasi: (1) Latar Belakang: Mengapa dan apa yang mendorong peneliti memilih topik penelitian ini. (2) Masalah: Rumuskan masalah secara jelas, singkat, termasuk konsep-konsep yang digunakan, masalah dibatasi, bagian mana yang digarap, mengapa bagian itu yang diambil, dan gambarkan pentingnya masalah: sumbangannya terhadap perkembangan ilmu, kegunaan praktis (bila ada), hubungan dengan penelitian lain Kegunaan yang lebih umum. (3) Kerangka Teori: Gambarkan konsep-konsep yang digunakan, pendekatan yang digunakan, gambarkan teori-teori yang pernah ada yang berkaitan dengan masalah yang digarap, kemukakan asumsi-asumsi dasar sebagai landasan berpikir, dan kemukakan hipotesis bila ada. Untuk penelitian sastra yang deskriptif, hipotesis tidak diperlukan. (4) Populasi dan Sampel: Gambarkan tentang jenis dan besarnya populasi dan tentukan sampel penelitian.
Persiapan awal pembuatan skripsi: (a) Menyiapkan perangkat alat tulis seperti komputer, printer, scanner yang akan mendukung kelancaran penulisan anda. (b) Penulisan dengan menggunakan komputer akan sangat memudahkan untuk mengadakan revisi. Jangan lupa selalu membuat backup nya di flashdisc supaya data tidak hilang jika komputernya rusak. (c) Review kembali pengetahuan anda tentang metodologi peneltian. (d) Mendaftar ke dosen koordinator skripsi fakultas, yang akan mendistribusikan anda ke bagian-bagian. (e) Mendaftar ke dosen koordinator skripsi bagian yang akan menetapkan dosen pembimbing anda. (f) Mempelajari buku petunjuk pembuatan skripsi yang berlaku di fakultas. (g) Menyiapkan buku catatan kegiatan yang akan ditandatangani oleh dosen pembimbing sebagai bukti kegiatan anda. (h) Menyusun tabel jadual pembuatan skripsi, berapa lama sekripsi anda rencakan untuk dikerjakan?. Konsultasikan dengan pembimbing tentang tahapan dan alokasi waktu yang direncankanuntuk masing-masing tahap.
Memahami karakter pembimbing: (a) Kenali karakter pembimbing, dengan mengenal karakter pembimbing anda, bisa disiapkan strategi untuk menghadapinya, Bagaimana kesukaanya membimbing, bagaimana kesukaannya jika kita ingin menghadap untuk konsultasi. (b) Tanyakan kepada kakak kelas yang pernah sukses menjadi anak bimbingannya.
Memilih topik penelitian: (a) Topik penelitian ditetapkan dulu sendiri sesuai dengan minat anda, ini mempunyai keuntungan, anda akan lebih antusias mengerjakan pembuatan skripsi yang topiknya memang disenangi. (b) Kesulitannya adalah mencari referensi pendukung yang sesuai dengan topik anda, belum tentu ada di perpustakaan Fakultas. (c)
Kebanyakan mahasiswa sebagai pemula dalam pembuatan rancangan penelitian akan kesulitan memilih topik penelitian. Untuk mempermudah, topik penelitian dapat ditetapkan dengan: (1) Mengawinkan variabel penelitian dari journal-journal penelitian yang ada di Fakultas. (2) Mengawinkan variabel penelitian dari skripsi-skripsi yang sudah ada di Fakultas. (3) Membaca saran-saran dari sekripsi yang sudah ada, pada setiap skripsi biasanya ada kesimpulan dan saran. Pada saran ini bisanya ditulis hal-hal yang masih perlu diteliti untuk dikembangkan. (4) Minta saran dari pembimbing, dari beberapa journal referensi yang berkaitan yang anda punyai kira-kira topik apa yang bisa dirancang. (5) Keuntungan dengan cara di atas adalah masing-masing skripsi atau journal sudah mempunyai daftar pustaka yang berkaitan yang bisa anda cari. (6) Saran: jangan mencontoh dan mengambil alih kalimat-kalimat yang ada pada skripsi yang sudah ada, ini bisa ketahuan pembimbing, lebih baik materi yang anda gunakan di cari dari referensinya saja.
Mencari referensi pendukung: (a) Referensi pendukung pertamakali di cari di perpustakaan fakultas: (b) Dari Journal ortodonsia yang ada difakultas seperti: American Journal Orthodontic, Angle Orthodontist dan lain-lain. Ini semuanya akan memuat topik penelitian ortodonsia. Telusuri dari journal yang terbaru, lihat dulu dari daftar isinya. (c) Dari Journal dentistry, journal ini materinya gabungan, lebih sukar mendapatkan materi ortodonsia yang akan dicari. (d) Dari Textbook Ortodonsia atau yang berkaitan, telusuri dengan mencari satu kata yang berkaitan pada daftar indeks pada bagian belakang masing-masing textbook. (e) Dari buku-buku ortodontik terjemahan, laporan penelitian yang telah dipublikasi, Majalah-majalah ilmiah yang ada diperpustakaan. (f) Sekarang teknologi sudah mendukung, referensi bisa di telusuri lewat internet, pada google atau yaho() search ketik kata yang berkaitan dengan penelitian anda, misanya orthodontic deep overbite, anda akan mendapatkan banyak referensi tentang deep overbite. (g) Selain itu referensi juga dapat dicari lewat jaringan antar perpustakaan fakultas atau universitas bahkan internasional coba tanyakan ke perpustakaan bagaimana caranya menggunakan fasilitas ini. (h) Referensi bisa diburu di perpustakaan FKG Universitas lain dengan datang sendiri atau minta tolong teman yang kuliah di difakultas tersebut.
Menganalisis variabel dan hubungan antar variabel: (a) Jika topik penelitian telah ditetapkan bersama pembimbing, anda sekarang harus menganalisis variabel penelitian: Mana yang menjadi variabel pengaruh?, mana yang menjadi variabel terpengaruh?. Variabel-variabel apa saja yang harus dikendalikan? Bagaimana cara pengendaliannya? Variabel-variabel mana yang tak terkendali? Kenapa tidak bisa dikendalikan? (b) Pada subjek atau objek apa variabel itu akan diukur? Dengan alat apa akan diukur? Bagaimana cara mengukurnya? Jenis data apa yang akan didapatkan. (c) Analisis statistik apa yang nanti kira-kira akan dipakai? Konsultasikan ke dosen atau konsultan ahli metodologi penelitian dan statistik. Apakah nanti akan menggunakan uji parametrik atau non parametrik? Uji perbandingan atau uji korelasi? (d) Pelajari metode analisis statistik yang sudah ditetapkan, gunakan analisis dengan program komputer supaya lebih mudah.
Memperkirakan kelayakan/feasibility penelitian: (a) Apakah topik penelitian yang telah ditetapkan layak untuk diteliti? Pertimbangan ini didasarkan kepada: Apakah topik itu sudah berkaitan dengan bidang ilmu ortodonsia? Apakah sampel penelitian akan didapatkan cukup? Apakah ada alat ukur atau peralatan laboratorium yang dibutuhkan? Apakah dana yang tesedia bisa mencukupi? Apakah pengurusan izin penelitian tidak masalah?
Konsultasi topik penelitian dengan pembimbing: (a) Topik penelitian yang telah dipertimbangkan diatas anda konsultasikan ke pembimbing, dengan cara ini anda menghadap pembimbing sudah dapat menunjukkan pemahaman tentang topik penelitian yang anda pilih. (b) Jangan kecewa jika pembimbing anda tidak setuju atau kurang berminat dengan topik yang anda pilih. (c) Siapkan topik-topik cadangan jika pilihan anda tidak disetujui. (d) Jika ingin aman konsultasi saja dulu kepembimbing sebelum memilih sendiri topik penelitian, tanyakan, kirakira topik apa yang bisa anda teliti? Dengan cara Ini anda menunjukkan bahwa anda menghadap ke pembimbing dengan kepala kosong. (e) Jangan lupa anda mempunyai dua pembimbing, jangan sampai ada kesan salah satu pembimbing merasa dilewatkan dalam menetapkan topik peneltian. Kalau ini sampai terjadi pembimbing tersebut akan enggan untuk membaca skripsi anda.
Menetapkan konsultan penelitian: Jika penelitian yang anda kerjakan mengait bidang ilmu lain misalnya seperti psikologi, radiologi, komputer, keahlian laboratorium tertentu, atas izin pembimbing anda, anda bisa minta bimbingan ahli tersebut sebagai konsultan.
Menyusun kerangka/outline penelitian: (a) Jika topik penelitian telah disetujui oleh kedua pembimbing. anda mulai menyusun kerangka penelitian. Susunan kerangka penelitian bisa dicontoh dari daftar isi skripsi ortodonsia yang terbaru yang sudah jadi di perpustakaan. (b) Urutan daftar isi biasanya sudah baku tinggal mencari jenis penelitian yang mirip dengan penelitian anda, tinggal memodifikasi isinya saja.
Menambah materi referensi: (a) Jika untuk penulisan skripsi referensinya belum cukup banyak (biasanya sekitar 10 – 30 refernsi) tambahannya bisa dicari dengan meneliti daftar pustaka masing-masing journal yang sudah anda punyai, journalnya bisa dicari di perpustakaan atau di internet. (b) Jika referensi yang dicari belum didapat, untuk sementara gunakan dulu sitasi pada tulisan anda, kemudian sebaiknya diganti dengan jurnal aslinya.
Menetapkan jumlah sampel penelitian. Penetapan jumlah sampel. tergantung dari jenis penelitian anda. Penelitian lapangan: Menggunakan rumus sampel berdasarkan jumlah populasi penelitian. (a) Menetapkan jumlah 60 sampel, yang secara empirik ditetapkan sebagai jumlah terkecil dari sampel besar yang sudah dianggap cukup repre-sentatif. (b) Menetapkan jumlah 120 sampel sebagai sampel penelitian merupakan sampel besar. Peneltian Klinik: Peneltian klinik yang jumlah sampelnya tidak banyak, sampel yang dipakai biasanya berkisar antara 30-60 sampel, bahkan kurang dari 30 sampel. Peneltian Laboratoris biasanya menggunakan sampel 5-10 sampel tiap kelopoknya. Jumlah sampel sangat ditentukan oleh biaya yang tersedia, jumlah populasi, tingkat kesulitan pengambilan, homoginitas variabel. Sangat dianjurkan pengambilan sampel dilakukan secara random.
Menyusun proporsal penelitian. Untuk menyusun proporsal penelitian ada 2 cara: (a) Menyusun proporsal sesuai dengan format proporsal penelitian, ini susunannya singkat (12-15) halaman. Tata tulisnya berbeda dengan format skripsi, referensinya tidak perlu banyak-banyak, yang penting dapat menjelaskan maksud, tujuan dan cara penelian. Setelah seminar proporsal, baru dilakukan penysunan secara lengkap. Dengan cara ini seminar bisa cepat dilakukan tetapi harus mengulang pembuatan skripsinya. (b) Langsung menyusun format skripsi secara lengkap sampai bahan dan cara (metode penelitian), seminar, kemudian disambung dengan hasil dan pembahasan setelah penelitian dilakukan. Dengan cara ini seminar butuh waktu lama untuk bisa dilaksanakan, tetapi penyusunan bisa dilakukan sekali kerja.
Cara mudah menyusun proporsal/skripsi: (a) Semua bahan referensi yang berbahasa inggris diterjemahkan. (b) Baca alinea demi alinea, jika ada satu alinea yang dianggap berkaitan, salin dalam satu halaman kertas, beri sumber referensi secara lengkap (seperti menulis daftar pustaka). (c) Masing-masing halaman yang terkumpul di lubangi kemudian diklip atau dijepit dalam satu map yang bisa dipasang atau dilepas. (d) Sekurang-kurang anda dapat mengumpulkan 50 – 100 lembar halaman. Sortir dan kelompokkan lembar-lembar tersebut, mana yang cocok untuk dipasang di latar belakang permasalahan, dan mana yang cocok untuk tinjauan pustaka atau mana yang cocok untuk di bahan dan cara. (e) Untuk masing-masing kelompok diurut lagi mana yang ditulis dahulu mana yang kemudian dan mana yang berikutnya. (f) Tulis sebagai satu alinea dengan menggunakan susunan kalimat sediri, jangan menyalin begitu saja tanpa mengedit kalimatnya. Berikan kalimat penghubung yang dibuat sendiri antar satu alinea dengan alinea yang lain. Dengan demikan tulisan anda akan tidak sama, enak dibaca, runtut dan nyambung. (g) Kerjakan bab per bab, dua copy diserahkan pada kedua pembimbing, aslinya anda yang pegang. (h) Supaya tidak dua kali kerja, perbaikan sebaiknya dilakukan setelah kedua pembimbing memberikan koreksiannya. Jangan lupa membawa oretoretan pembimbing pada proporsal/skripsi yang lama ketika menunjukkan hasil perbaikan supaya mudah menunjukkan perbaikan yang telah anda lakukan.
Seminar proporsal: (a) Setelah proporsal disetujui oleh kedua pembimbing, mintakan tanda tangan pembimbing, proporsal siap untuk diseminarkan. (b) Segera lapor ke kordinator skripsi bagian Ortodonsia untuk menentukan jadual waktu seminar, alokasikan waktu sekurangkurangnya 3 hari untuk membaca proporsal anda. (c) Proporsal diperbanyak 14 kali, 4 untuk dosen dan 10 untuk teman peserta seminar. (d) Cari sekurang-kurangnya sepuluh teman untuk menghadiri seminar proporsal. (e) Minta tolong agar pembaca proporsal sudah memberikan oret-oretan pada proporsal yang telah dibagikan dan ditumpuk setelah seminar selasai. (f) Siapkan transparan presentasi selama 15 menit, siapkan formulir berita acara seminar, bisa diminta kepada koordinator seminar. (g) Minta tolong 2 teman sebagai notulen, untuk membantu mencatat semua masukan pada saat seminar berlangsung, anda cukup konsentrasi kepada pertanyaan yang diajukan. (h) Periksa OHP sebelum seminar dimulai.
Persiapan penelitian: (a) Setelah seminar selesai segera lakukan perbaikan, tunjukkan kepada dosen pembimbing dan dosen peserta seminar perbaikan yang telah anda lakukan dengan membawa oretoretan pada proporsal terdahulu. (b) Minta izin pembimbing untuk bisa melakukan penelitian. Jika penelitian dilakukan di bagian lain atau diluar fakultas minta izin kepada penguasa setempat. Minta surat permohonan izin penelitian ke pengajaran. (c) Siapkan sarana prasarana penelitian yang dibutuhkan seperti yang tertulis pada proporsal. (d) Sebaiknya dalam pelaksanaan penelitian ada yang membantu.
Pengumpulan data penelitian: (a) Lakukan trial (latihan mengukur) sebelum penelitian sebenarnya dimulai. (b) Siapkan formulir data penelitian untuk masing-masing sampel penelitian. (c) Lakukan uji konsistensi pengukuran, dan uji perbedaan hasil pengukuran, jika pengukuran dilakukan lebih dari seorang pengukur. (d) Pengukuran sampel sebaiknya dilakukan sendiri atau oleh ahlinya jika mengunakan alat yang membutuhkan penanganan ahlinya. (e) Lakukan 2-3 kali pengukuran untuk masing-masing sampel yang diukur. (f) Tunjukkan hasil pengukuran (row data) kepada pembimbing dan minta izin untuk melakukan tabulasi data.
Tabulasi dan analisis data penelitian: (a) Data mentah (row data) disusun dalam satu tabel sesuai dengan variabel yang diteliti. (b) Konsultasikan cara analisisnya kepada ahlinya, sebaiknya analisis dilakukan menggunakan program komputer analisis statistik yang tepat.
Menyelesaikan pembuatan skripsi: (a) Teruskan penulisan hasil dan pembahasan, kesimpulan dan saran, dan konsultasikan lagi kepada kedua pembimbing. (b) Jika semua konsultasi sudah dianggap selesai oleh kedua pembimbing, lakukan penataan akhir. Susun sekripsi sesuai dengan susunan dan format sekripsi yang lengkap, bisa mencontoh format skripsi terbaru yang sudah jadi di perpustakaan. (c) Periksakan kepada pembimbing dan mintakan tanda tangan, kemudian skripsi diperbanyak 3 kali, dijilid, disampul sesuai dengan warna yang ditentukan oleh dosen kordinator skripsi. (d) Lapor kepada kordinator skripsi, untuk ditentukan jadual ujian dan tim pengujinya. Alokasikan waktu sekurang-kurangnya 3 hari untuk memberi kesempatan kepada tim penguji membaca skripsi anda.
Persiapan maju ujian: (a) Persiapan maju ujian pendadaran hampir sama dengan persiapan seminar proporsal: siapkan berita acara minta ke pengajaran dan ke koordinator skripsi, siapkan transparan presentasi untuk presentasi selama 15 menit, dan baca ulang secara teliti, jika masih diketemukan kesalahan bisa dibuatkan ralatnya dibagikan menjelang ujian dimulai, periksa OHP sebelum ujian dimulai.
Perbaikan skripsi setelah ujian: (a) Lakukan perbaikan setelah anda dinyatakan selesai/lulus menempuh ujian. (b) Tunjukkan perbaikan yang telah anda lakukan dengan menunjukkan koreksi yang diberikan pada waktu ujian.
Cetak, penggandaan dan penjilidan skripsi serta daftar wisuda: (a) Cetak dan gandakan skripsi anda sebanyak yang dibutuhkan ( biasanya 5 eksemplar), jilid dengan format dan warna sampul standard, tanyakan kepada kordinator skripsi dan pengajaran kapan anda harus mendaftar wisuda (sudah tentu jika anda tidak mempunyai tunggakan di bagian lain).
Saran: (a) Adalah sangat keliru jika anda beranggapan bahwa mengerjakan sekripsi lebih baik dilakukan nanti setelah semua mata kuliah dan praktikum diselesaikan. Dosen pembimbing tidak akan bisa cepat-cepat mengoreksi tulisan anda. Anda akan merasa sangat lama menunggu karena tidak ada lagi pekerjaan lainnya. Waktunya menjadi tidak efisien. (b) Kerjakan skripsi bersamaan dengan mengerjakan pekerjaan dan praktikum lainnya. Sediakan waktu khusus 3 jam per perminggu untuk memikirkandan mengerjakan skripsi. (c) Siapkan satu bab dalam jangka waktu tertentu misalnya satu minggu, kemudian ditumpuk pada kedua pembimbing, beri waktu yang cukup kepada dosen untuk membacanya misalnya 1-2 minggu. Selama menunggu kerjakan pekerjaan lainya. (d) Jika ada waktu senggang yang panjang misalnya libur akhir semester, gunakan untuk menulis, sekali tulis berurutan bab demi bab sampai selesai. Ini akan lebih efisien, kemudian serahkan bab per bab kepada dosen pembimbing. (e) Jangan menyerahkan tulisan secara keseluruhan sekali jadi, ini akan dapat menimbulkan kecurigaan dosen bahwa anda mencontek skripsi yang sudah jadi. Tunjukkan proses dalam pembuatan skripsi.
F. Penulisan Tesis
Tesis berbeda dengan skripsi dalam suatu hal yang amat penting. Jika skripsi tidak ditujukan untuk memecahkan masalah, inaka tesis justru bermaksud untuk memecahkan masalah itu. Perbedaan ini amat fundamentil. Akan tetapi persamaannya akan tampak dalam beberapa hal seperti berikut ini: (1) Baik skripsi maupun tesis berdasarkan laporan kenyataan peristiwa yang sah dan sistimatis, (2) Baik skripsi maupun tesis mengemukakan masalah yang harus benar dan memenuhi syarat-syarat untuk suatu masalah, (3) Baik skripsi maupun tesis terikat kepada sistimatika formil, (4) Baik skripsi maupun tesis harus tunduk kepada hukum-hukum dan azas-azas logika ilmiah, (5) Baik skripsi maupun tesis harus berdasarkan dan melalui metodologi yang benar.13
Kelima persamaan, dan juga karakteristik, dari skripsi memperlihatkan bahwa dalam hal-hal itu nilai skripsi tidak kalah dalamnya dengan tesis. Akan tetapi di samping persamaan yang telah dikemukakan di atas, antara tesis dan skripsi terdapat perbedaan-perbedaan. Perbedaan-perbedaan yang terpenting antara tesis dan skripsi: (1) Tesis bermaksud dan didorong oleh tujuan untuk memecahkan persoalan yang dikemukakannya, sedangkan skripsi tidak berdasarkan tujuan untuk memecahkan masalah itu; (2) Analisa yang terdapat di dalam karangan tesis bertujuan untuk mengambil kesimpulan dalam bentuk dalil, generalisasi, hukum, atau tesis, sedangkan skripsi tidak bermaksud untuk menyusun dalil, generalisasi, hukum, atau tesis; (3) Tinjauan atau wawasan tesis adalah lebih luas dari pada skripsi.
Materi tesis diisi dengan dasar-dasar teoritis yang erat hubungannya (langsung dan sebagai pendukung) térhadap judul tesis. Selanjutnya hal itu dapat dielaborasi dengan laporan riset dan analisa terhadap tujuan yang diselidiki dalam hubungannya dengan hipotesa yang sejalan dengan proses pembuktian. Data yang dapat dikumpulkan, dianalisa dan diinterpretasi. Dalam hal ini’ tesis berbeda dengan laporan. Lain dari itu tesis harus memiliki masalah yang jelas yang akan ditangani’penulis karangan tesis itu. Masalah harus dicari, diidentifikasi dan dirumuskan dengan tepat. Karena tesis itu mengemukakan masalah, maka tesis tersebut harus memiliki peralatan yang cocok untuk menunjang pemecahan masalah itu.
Dalam menghadapi masalah yang telah dirumuskan, karangan tesis mesti dapat menganalisanya dengan peralatan logika. Tesis dikemukakan dengan suatu metode dan sistimatika tertentu. Karena nilai tesis itu terletak dalam perumusah kesimpulan, maka kesimpulan yang diperolehnya harus didasarkan kepada pembuktian-pembuktian yang tidak mungkin dibantah kebenaran-nya. Untuk mencapai kesimpulan ini dapat dimulai dengan metode induktif, yaitu dengan melalui penuturan deskriptif dan analisa. Atau dapat pula ‘dengan metode deduktif, yaitu dimulai dengan dalil-dalil yang umum atau generalisasi substantif.
Hakekat tesis itu berdasaikan arti tesis yang sebenamya. Seperti kita ketahui, istilah tesis dapat diartikan ke dalam dua pengertian: (1) Tesis didefinisikan sebagai sebuah hipotesa, sebagai ketetapan atau pemyataan yang dikembangkan dan dipertahankan, jika mungkin, oleh argumentasi. Dari pandangan ini, sebuah tesis adalah percobaan pemecahan untuk masalah; dan (2) Sebuah tesis didefinisikan sebagai karangan formil yang fungsinya adalah untuk menyampaikan suatu argumen logis yang mendukung suatu pandangan spesifik, terutama, suatu pemecahan untuk suatu masalah. Seperti hipotesa yang dikemukakannya, argumentasi yang disampaikan itu haruslah hasil pemikiran dan berdasarkan penyelidikan penulis sendiri.
G. Penulisan Disertasi
Sebenamya sebuah disertasi dan tesis itu adalah berasal dari “cabang” karangan yang sama, tetapi dari “ranting” yang berbeda. Fungsi disertasi adalah untuk menyelenggarakan suatu diskusi yang sistimatis tentang suatu subyek atau pokok karangan. Ruang lingkupnya lebih luas dari pada tesis, dan gaya formilnya tidak begitu kaku. Maksud sebuah disertasi adalah untuk mengemukakan suatu kritik, penjelasan, atau penjernihan. Yaitu untuk mengemukakan suata pandangan yang merupakan dalil. Membuat disertasi adalah untuk memperbincangkan, atau membantah, dengan cara ilmu pengetahuan. Bertentangan dengan logika numgenai alasan atau penalaran ilmiah formil di dalam tesis, penulis disertasi menangani pokok atau subyek karangan kuranglebih bersifat didaktis. Ini jangan diartikan bahwa disertasi itu tidak berdasarkan penalaran atau logika ilmiah.
Tesis dan disertasi yang baik menunjukkan hasil dari penyelidikan intelektuil. Dasar-dasar keduanya akan berdiri kukuh jika studi, pemikiran, penyelidikan, renungan dan pengertian-tulah menghasilkan hipotesa atau pemikiran yang dapat diselidiki. Seandainya penyelidik melengkapkan dirinya dengan jaminan tentang kebenaran untuk penjernihan dan pemecahan penyelidikan, maka tesis dan disertasi dapat disusun.
Suatu tesis ditulis untuk mengukuhkan kebenaran suatu pemecahan terhadap masalah, dengan argumentasi yang formil dan logis dalam pembuktian. Esensi sebuah tesis adalah analisa konseptuil atau empiris, deduksi dan kesimpulan. Sebuah disertasi sedikit banyak adalàh karangan formil dalam analisa, interpretasi, penilaian, dan penjelasan pokok, subyek, atau ilmu pengetahuan atau pendapat. la dapat bermaksud untuk menjernihkan ilmu pengetahuan atau menentukan pendapat. Sebuah disertasi dapat berbentuk kritik, nórmatif, dugaan, atau bahkan spekulatif. Membuat sebuah disertasi berarti menghubungkan suatu proses tentang argumentasi dari premise kepada kesimpulan.
Penulis disertasi dapat menggunakan premise yang diambil dari pemikiran logis yang tidak memiliki dasar empiris.16 Di dalam kata pengantar buku disertasi, Risk, Uncertainty and Profit, tulisan Frank H. Knight, yang mendapat hadiah disertasi doktoral, terdapat ucapan: “Adalah, sedikit yang secara fundamentil baru di dalam buku ini. la menggambarkan suatu percobaan untuk menyata-kan prinsip-prinsip esensiil dari doktrin ekonomi konvensionil lebih tepat, dan untuk menunjukkan implikasi-implikasinya-lebih jelas, dari pada yang telah dikerjakan sebelumnya. Yaitu obyeknya adalah penjernihan, bukan pembehtukan kembali; ia adalah suatu studi dalam “teori murni”. Àdalah tidak tepat jika’di dalam tesis, penulis yang bersangkutan, mengadakan spekulasi bahwa dalam suatu saat per-ekonomian liberalistis akan mendekati perekonomian sosialistis dan sebaliknya perekonomian sosialistis akan mendekati perekonomian liberalistis. Tetapi sebuah disertasi dapat mendiskusikan suatu spekulasi tentang pertanyaan apakah perekonomian liberalistis dan perekonomian sosialistis akan saling mendekat. Dalam diskusi itu ia dapat mengemukakan argumentasi yang timbul dari segala bukti yang ada dalam segala aspek. Ia dapat sampai kepada kesimpulan yang definitif melalui proses penalaran dan logika yang datang dari premise Perbedaan antara tesis dan disertasi bukan terletak pada jenis karangan tetapi pada tingkat yang perlu dicapai. Perbedaan itu akan tampak pula dalam hasil yang dicapãi oleh tesis dan skripsi, seperti halnya hasil yang perlu dicapai oleh laporan dan skripsi. Laporan, skripsi, tesis dan disertasi mempunyai karakteristik yang berbeda karena yang kemudian adalah lebih jauh dan yang sebelumnya. Tetapi semua bentuk karangan atau tuliSan itu adalah tetap harus mempertahankan kebenaran di atas segala-galanya.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright (c) 2010 DhyaH254_CoffeeStarlite UnderNight and Powered by Blogger.